Archive for the ‘Seputar 'Bisnis'’ Category

Insinyur Bakso

Kedai Bakso NCBTepat tahun baru masehi, 1 Januari 2008 adalah hari pertama pembuakaan jualan bakso di Porong, Sidoarjo. Penjualan bakso ini digagas oleh teman-teman penerima beasiswa Unggulan Aktivis sebagai program KKN (Kuliah Kerja Nyata) di daerah korban luapan lumpur Lapindo, Sidoarjo. Fokus bidang garap kami adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pada awalnya kita membuka usaha baru, harapan kedepannya akan dijalankan oleh masyarakat korban luapan lumpur yang masih belum punya pekerjaan. Tapi karena kesulitan mencari orang, kita sepakat mengkontrak sebuah rumah untuk dijadikan base camp usaha bakso, yang kebetulan halaman depannya luas dan posisinya pinggir jalan. Akhirnya, kami memutuskan untuk membuka kedai bakso didepan rumah.
Sebelum jualan kami diajarkan oleh Ibu Indri, penjual bakso terkenal dari Tulungagung. Saya pun ikut belajar membuat bakso atau orang jawa mengatakannya Pentol. Ada dua jenis bakso: bakso halus hanya menggunakan daging super dan bakso kasar yang dicampur daging sesetan. Selain membuat pentol (bakso), kami juga belajar layaknya seorang pedagang. Pagi-pagi selepas sholat subuh menyiapkan bumbu untuk dibawa ke pasar. Beli daging menggilingnya juga membeli perlengkapan dan bahan-bahan bakso untuk jualan di hari itu. Setelah selesai masak dan beres-beres, kedai bakso di buka sekitar jam 10an.
Saya tidak terpikir akan jadi begini, cita-cita dulu awal kuliah ingin usaha sambil kuliah. Belajar mandiri jadi entrepreneur. Yang aneh lagi kok jadi julan bakso begini, padahal temen-temen kebanyakan satu jurusan dari Teknik Mesin ITS. Ya jadi Insinyur Bakso akhirnya, seperti Khairul Azzam dalam Novel Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy) Ketika Cinta Bertasbih yang kuliah di Al-Azhar, Mesir. Dalam novel itu Azzam diceritakan sebagai penjual bakso, yang akhirnya kuliahnya telat sampai 9 tahun untuk S1. Meskipun saya jualan bakso, mudah-mudahan cepat lulus (4 tahun) tidak seperti Azzam. Apalagi sekarang sudah semester 8, semester terakhir inginnya.
Nama kedai bakso itu adalah Bakso NCB yang kepanjangannya National Charachter Building, karena memang program ini sebagai follow up kegiatan NCB 1 atau bisa dikatakan KKN ini sebagai kegiatan NCB 2 yang diberikan dana dari uang beasiswa tersebut, tapi bentuknya harus digunakan dalam pendaan program. Banyak pembeli yang bertanya “Apa mas Bakso NCB itu, kok namanya kayak alat listrik?” Begitu kiranya kalau di Indonesia-kan. Dalam spnduk memang tidak ada kepanjangannya karena meskipun dituliskan tetap akan bertanya, “Apa national character building itu?” Pokoknya angel (kesulitan)-lah menjelaskannya. Bahkan guyonan temen-temen NCB itu kepanjangan dari Nikmar Cekali Bo!
Namun apa dikata, terasa usaha baru itu butuh ketelatenan. Diawal-awal alhamdulillah banyak pembeli meskipun belum nutup modal juga, tapi rasanya senang kalau jualan kita laku. Semakin hari tambah memburuk, modal belum ketutup malah nombok, apalagi persediaan dana semakin menipis, dan program seharusnya selesai di bulan Desember. Jadi pusing ….. ditambah lagi tengah januari ini ada ujian akhir semester 7 di kampus. Semua sepakat untuk berhenti, tidak jualan. Setelah ujian selesai, laporan program sudah hampir selesai. Kita melanjutkan kembali usaha bakso, ngereuyeuh (baca: dijalani terus) dengan harapan mudah-mudahan bisa dikembangkan usahanya dan benar benar jadi program pemberdayaan masyarakat.