Archive for January, 2008|Monthly archive page
Learning English
Hari jum’at 25 Januari 2008, untuk kesekian kalinya belajar bahasa Inggris di UPT Pusat Bahasa, ITS. Suasana masih tenang, alhamdulillah kebagian kursi. Tidak seperti kemarin yang terlantar karena saking banyaknya yang kursus pada saat itu. Setelah belajar dimulai, banyak orang yang senasib dengan saya kemarin tidak dapat tempat duduk di kelas untuk mengikuti les. Akhirnya suasana menjadi rame, dan belajar pun terhenti. “Mrs. Ratna, Please look for another techer, we will split this class” begitu kiranya Bu Lubna Al-Gadrie Manajer UPT. Pusat Bahasa meminta Bu Ratna untuk mencarikan pengajar yang lain, karena kelas akan di pecah menjadi dua kelas.
Disela-sela waktu Bu Lubna bercerita kebetulan pas dikelas itu kebanyakan peserta Program Student Care IKOMA, Kursus gratis dari UPT. Pusat Bahasa yang pendanaannya diambil dari dan IKOMA (Ikatan Orangtua Mahasiswa). Saya juga termasuk salah satu peserta program itu. Beliau memaparkan pada dasarnya fasilitas program ini adalah 2 level les gratis, 2 kali tes TOEFL, dan 1 kali LCPT (Placement Test) yang kesemuanya kalau diuangkan sekitar 300rb. Padahal subsisdi dari IKOMA per mahasiswa adalah 90rb. So, ini program luar biasa dari UPT. Bahasa untuk meningkatkan skill bahasa mahasiswa ITS, khususnya yang sudah semester 6 keatas. Bukan untuk mencari kelulusan. Bu Lubna berkata dengan tegas.
Memang UPT. Pusat Bahasa menjadi bahas omongan orang, karena setelah diberlakukannya standar minimal TOEFL untuk Yudisium wisuda adalah 450. Tersebar isu bahwa UPT. Pusat Bahasa hanya mencari uang dari tes TOEFL untuk calon wisudawan yang mbambet (tidak lulus karena TOEFL-nya kurang dari 450), sehingga harus beberapa kali tes untuk mencapai score 450. Untuk itu beliau berpesan maanfaatkanlah fasilitas ini dengan sebaik-baiknya. Mumpung masih lama ke Wisuda. Banyak lulusan lulusan ITS yang menjadi sukses bekeja karena memiliki score TOEFl yang bagus kisaran 550-650. Kalau masih 450 memang lulus tapi itu hanya baru bisa membaca soal belum bisa memahami soal. Kalau saja orang-orang tersebut Bu Lubna tes satu-satu mereka tidak akan bisa menjawab apa maksudnya soal ini.
Alhamdulillah, dalam pengamatanku. UPT. Pusat Bahasa terus berbenah, mulai dari fasilitas dan manajemen. Berbeda saat saya pertama masuk ITS tahun 2004 waktu itu tes TOEFL awal di sana. Sekarang banyak peningkatan. Dan saya juga bersyukur akhirnya bisa les di UPT. Pusat Bahasa, yang diniatkan sudah dari dulu. Tapi ga jadi-jadi untuk les. Sekarang baru sadar bahwa sebentar lagi mau lulus, Bahasa Inggris saya masih belepotan. Mudah-mudahan pas sidang nanti TOEFL nya bisa lebih dari 450, karena di mesin sendiri syarat sidang itu harus ada sertifikat TOEFL dengan score minimal 450. Amiin!
Wedus, Kon Iku !
Ketika akan berangkat ke Porong untuk jualan bakso lagi saya mampir ke Sakinah, Swalayan paling favorit dekat kampus. Naik motor keluar dari parkir Sakinah, langsung ngiri (ke kiri) terus melaju di Jl. Arief Rahman Hakim, Keputih-Sby. Pas belok memang terdengar bunyi klakson, tak dihiraukan “Ah, mungkin tadi saya sedikit ganggu motor belakang pas belok dari sakinah” dalam hati. Eh setelah lewat pom bensin dekat Perumahan Galaxy ada orang tiba-tiba nyalip dan berkata keras “Wedus kon iku, menggok ga nonto-nonto !!!” atau indonesianya “Dasar kambing, belok tidak lihat-lihat !!!” Dalam hati memang terpancing amarah. ‘La Taghdob’ (jangan marah) teringat sabda Rosul seakan mengingatkan untuk tidak membalas dengan amarah. Tapi terus saya ‘pentelengi’ (dilihat terus) salah satu jurus yang diajarkan papihku kalau marah dijalan.
Posisi motor terus membuntuti orang tersebut, saya terus memfokuskan penglihatan ke motor tersebut, sambil berkata dalam hati “Oh, saya sadar memang saya salah harus lebih hati-hati lagi”. Tapi motor itu terus saya kejar dan buntuti. Saya perhatikan terus, sedikit-sedikit pengendara motor itu melihat saya dari spionnya, kelihatannya was-was juga takut diapa-apakan. Dan kelihatan gelisah setelah tadi ngomong “Wedus kon iku”. Oh ternyata takut juga, padahal saya tidah membalas dengan omongan lagi. Hanya dengan sikap saya yang membuntutinya. Akhirnya di pertigaan ITATS berpisah, saya belok kiri ke arah semolowaru.
Di perjalanan menuju Porong, saya terus bergumam dalam hati “Memang salah saya”. Saya sadar tidak baik bikin masalah di daerah orang apalagi saya dalam posisi salah, bisa gawat nanti. Apalagi orang surabaya terkenal dengan bonex-nya. Untuk aja tidak keluar suara indah meso-meso (Jancuk)!!!
Hikmahnya lebih hati-hatilah dijalan, kita harus intropeksi diri memperbaiki akhlaq
(tingkah laku) kita dalam mengendarai kendaraan. Intinya Titi DJ (Hati-hati Di Jalan)!
Insinyur Bakso
Sebelum jualan kami diajarkan oleh Ibu Indri, penjual bakso terkenal dari Tulungagung. Saya pun ikut belajar membuat bakso atau orang jawa mengatakannya Pentol. Ada dua jenis bakso: bakso halus hanya menggunakan daging super dan bakso kasar yang dicampur daging sesetan. Selain membuat pentol (bakso), kami juga belajar layaknya seorang pedagang. Pagi-pagi selepas sholat subuh menyiapkan bumbu untuk dibawa ke pasar. Beli daging menggilingnya juga membeli perlengkapan dan bahan-bahan bakso untuk jualan di hari itu. Setelah selesai masak dan beres-beres, kedai bakso di buka sekitar jam 10an.
Saya tidak terpikir akan jadi begini, cita-cita dulu awal kuliah ingin usaha sambil kuliah. Belajar mandiri jadi entrepreneur. Yang aneh lagi kok jadi julan bakso begini, padahal temen-temen kebanyakan satu jurusan dari Teknik Mesin ITS. Ya jadi Insinyur Bakso akhirnya, seperti Khairul Azzam dalam Novel Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy) Ketika Cinta Bertasbih yang kuliah di Al-Azhar, Mesir. Dalam novel itu Azzam diceritakan sebagai penjual bakso, yang akhirnya kuliahnya telat sampai 9 tahun untuk S1. Meskipun saya jualan bakso, mudah-mudahan cepat lulus (4 tahun) tidak seperti Azzam. Apalagi sekarang sudah semester 8, semester terakhir inginnya.
Nama kedai bakso itu adalah Bakso NCB yang kepanjangannya National Charachter Building, karena memang program ini sebagai follow up kegiatan NCB 1 atau bisa dikatakan KKN ini sebagai kegiatan NCB 2 yang diberikan dana dari uang beasiswa tersebut, tapi bentuknya harus digunakan dalam pendaan program. Banyak pembeli yang bertanya “Apa mas Bakso NCB itu, kok namanya kayak alat listrik?” Begitu kiranya kalau di Indonesia-kan. Dalam spnduk memang tidak ada kepanjangannya karena meskipun dituliskan tetap akan bertanya, “Apa national character building itu?” Pokoknya angel (kesulitan)-lah menjelaskannya. Bahkan guyonan temen-temen NCB itu kepanjangan dari Nikmar Cekali Bo!
Namun apa dikata, terasa usaha baru itu butuh ketelatenan. Diawal-awal alhamdulillah banyak pembeli meskipun belum nutup modal juga, tapi rasanya senang kalau jualan kita laku. Semakin hari tambah memburuk, modal belum ketutup malah nombok, apalagi persediaan dana semakin menipis, dan program seharusnya selesai di bulan Desember. Jadi pusing ….. ditambah lagi tengah januari ini ada ujian akhir semester 7 di kampus. Semua sepakat untuk berhenti, tidak jualan. Setelah ujian selesai, laporan program sudah hampir selesai. Kita melanjutkan kembali usaha bakso, ngereuyeuh (baca: dijalani terus) dengan harapan mudah-mudahan bisa dikembangkan usahanya dan benar benar jadi program pemberdayaan masyarakat.
Ayat-ayat Cinta
Walaupun sudah basi saya tetap berniat mengkhatamkan (menyelesaikan) bacaan saya, salah satu novel kang Abik, Ayat-ayat Cinta. Subhanalloh, isinya penuh hikmah, bukan cerita cintanya, tapi pengalaman hidup yang sarat makna.
Entah kenapa? saat-saat liburan kuliah semester ganjil 2007-2008 ini rasanya ingin sekali baca karya-karya Habiburrahman El Shirazy. Nyari pinjemen buku, akhirnya dapet juga dari Ayi, yang mengkoleksi karya kang Abik. Ayat-ayat Cinta ini buku kedua kang Abik yang saya baca, setelah buku Dalam Mihrab Cinta. Apalagi sekarang lagi gencar-gencarnya Film ACC, yang pemutaran pertamanya direncanakan tgl 19 Desember 2007, tapi sampai sekarang belum tayang juga. Tunggu saja tanggal mainnya bagi pencinta film AAC, ada bocoran katanya pas valentine-nan, tgl 14 Februari. Ditunggu saja ya!
Keinginan yang baru terwujud
alhamdulillah saya bersyukur sekali, setelah beberapa lama bermimpi mempunyai sarana berekspresi, mencurahkan isi hati, pemikiran, pengalaman, ilmu yang telah didapat, dll. Akhirnya, 17 Januari 2008 bisa mewujudkan keinginan membuat sebuah blog. Sebelumnya, saya hanya menjadi penonton setia (blogwalking), melihat blog-blog yang sudah bagus.
Awalnya sempat bingung juga memilih antara blogspot dan wordpress, melihat segala kelebihan dan kekurangannya. Yang pada akhirnya saya menguatkan tekad untuk bergabung dengan wordpress. Mudah-mudahan tidak salah pilih.
Adapun kalau ada kebaikanmya blog ini silahkan dimanfaatkan, kalau ada kekurangannya ga usah sungkan untuk mengkritiknya. maklum masih amatiran.
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
Comments (3)
Comments (2)
Comments (3)